Latest Posts | Latest posts from our site.

TAHAP-TAHAP PENANGANAN PULLET

Penanganan Pullet Umur 16 Minggu s/d 24 Minggu

A. MENANGANI PULLET YANG BARU DATANG

1. Hindari stress berlebihan
  • Segera bongkar SEMUA keranjang pullet dari truk dan tempatkan pada tempat yang teduh.
  • Masukkan pullet ke kandang baterai dan jangan ditimbang dulu.
 2. Memberi Minum Pullet
  • Pullet diberi minum secukupnya.
  • Bila perlu tambahkan larutan gula merah (sorbitol) dan vitamin C. Untuk 1.000 ekor pullet, siapkan 150 liter air minum dicampur dengan gula merah 2 kg dan vitamin C 20 gram.
  • Jika air minum sudah habis, berikan antibiotik berspektrum luas.
  • Namun bila air minum tidak habis, pemberian antibiotik dilakukan mulai esok harinya.
 3. Memberi Pakan Pullet
  • Pakan yang diberikan berupa pakan starter ayam layer,  sebagai berikut :

4. Menimbang Berat Badan
  • Berat badan pullet sebaiknya ditimbang 1 hari setelah pullet datang.
  • Tujuannya untuk mendapatkan data berat badan sebenarnya.
  • Penyusutan berat badan karena transportasi bervariasi antara 5-10 %.
5. Menyalakan Lampu
  • Lampu dinyalakan pada malam hari selama 1-2 hari setelah pullet datang.
  • Tujuannya memberikan kesempatan pullet untuk makan lebih lama agar target konsumsi pakan dan berat badan bisa pulih secepatnya.
  • Formulasi pakan :  Konsentrat 33 %, Jagung 47 % dan Bekatul 20 %.
B. MENANGANI PULLET SETELAH 1 MINGGU DATANG

1. Memberikan Vaksin ND
  • Memberikan proteksi kekebalan terhadap pullet.
  • Bila aplikasi lewat air minum (drinking water) gunakan 1,5-2 dosis.
  • Berikan Susu skim (skim milk) 1 hari sebelum vaksin dan saat vaksin dilakukan.
2. Mengatasi konsumsi pakan yang rendah
  • Untuk pullet yang memiliki crop capacity (kapasitas tembolok) maksimal, biasanya tidak ada masalah dengan konsumsi pakan.
  • Kapasitas tembolok maksimal bisa dilakukan dengan men-setting perkembangan fisiologi pullet pada masa growing.
  • Usaha untuk mencapai target konsumsi pakan sesuai dengan standart. Yang paling sering dilakukan adalah dengan cara korek/membalik pakan.
  • Pola pemberian pakan 30-40 % pagi dan 60-70 % sore hari.
  • Skipday feeding,  dengan melatih/menguras pakan pada saat puncak panas (tengah hari).
  • Menyalakan lampu 2-3 jam setelah hari gelap untuk memberi kesempatan pullet mengkonsumsi pakan lebih panjang.
  • Merubah komposisi pakan dengan menurunkan jagung 2 %. Komposisi pakan yang umum  adalah Konsentrat 33-35 %, Jagung 50 % dan Bekatul 15-18 %.
  • Menambahkan pakan starter layer crumble/kimble 5 gram/ekor/hari. Tujuannya untuk palatabilitas pakan.

C. MENANGANI PULLET USIA 18 MINGGU

1. Memisahkan Pullet yang berjengger pucat
  • Pullet yang berjengger puret (pucat) harus dipindahkan ke kandang baterai yang mendapat sinar lebih banyak/besar.
  • Timbang berat badan pullet yang jenggernya puret (pucat). Bila berat badan > 1.300 gram/ekor lakukan injeksi vitamin E + Selenium.
  • Secara normal pullet dengan berat badan minimal 1.300 gram per ekor (terdapat -/+ 5 % lemak tubuh). Lemak tubuh akan merangsang kerja hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone) untuk pertumbuhan dan pematangan indung telur.
2. Pullet mulai belajar betelur
  • Penambahan cahaya dimulai dengan menaikkan ½ jam secara bertahap setiap minggu sehingga pada usia 23-24 minggu. Lama pencahayaan 16-17 jam per hari.
  • Penambahan Grit 0,5 % dan DCP P 18% ½ kg per ton pakan untuk sumber Ca. Setiap proses bertelur membutuhkan Ca dalam jumlah tertentu. Kebutuhan Ca di ambil dari sumber pakan dan simpanan Ca dalam tulang kaki (femur atau medullary bones). Defisiensi dalam waktu lama dapat mengakibatkan kelumpuhan.
D. MENANGANI PULLET USIA 19 MINGGU

1. Menyeleksi pullet berdasarkan tulang pubis
  • Pullet yang memiliki lebar tulang pubis 2 jari tangan orang dewasa menunjukkan tanda perkembangan organ reproduksi berjalan normal.
  • Pullet yang sudah memiliki lebar tulang pubis minimal 2 jari tangan orang dewasa, bagian cloaca (cupropodium) mulai basah.
  • Kontrol jumlah bulu primer sayap.  Normalnya berjumlah 9-10 helai.
  • Evaluasi program vaksinasi lanjutan.
  • Pengulangan injeksi Vitamin E + Selenium untuk pullet-pullet yang perkembangannya masih tertinggal.
E. MENANGANI PULLET USIA 20 MINGGU

1. Vaksinasi ND + IB live dan ND + IB killed
  • Pelaksanaan vaksin ND + IB live bisa dilakukan awal usia 20 minggu.
  • Berikan Susu skim (skim milk) 1 hari sebelum dan saat pelaksanaan vaksin ND+IB live.
  • Vaksin ND+IB killed diberikan 7-10 hari setelah vaksin ND+IB live atau saat produksi telur mencapai 10-20 % HD.
  • Sebelum vaksin IND+IB killed sebaiknya dilakukan cleaning program antibiotik spectrum luas.
F. MENANGANI PULLET USIA 21-24 MINGGU

1. Target Pencapaian
  • Target konsumsi pakan 100 gram per ekor dan mulai terus naik 1 gram per ekor per hari atau minimal 5 gram per ekor per minggu.
  • Target kenaikan produksi telur harian 2-3 % HD sampai dengan mencapai 84-88 % setelah itu kenaikkan ½-1 % sampai dengan puncak produksi ( > 90 %).
  • Target konsumsi pakan 118-120 gram perekor per hari dan Egg Mass 56-57 kg per 1.000 ekor.
2. Pullet Mulai Belajar Bertelur
  • Penambahan cahaya dimulai dengan menaikkan ½ jam secara bertahap setiap minggu sehingga pada usia 23-24 minggu lama pencahayaan 16-17 jam per hari.
3. Penambahan Sumber Kalsium
  • Lakukan penambahan Grit 0,5 % dan DCP P 18 % ½ kg per ton pakan karena untuk setiap proses bertelur membutuhkan Ca dalam jumlah tertentu.
Oleh : Bp. Ir Agus Suyanto

    KEBUTUHAN VITAMIN PADA AYAM PETELUR

    Tujuan utama dari semua usaha peternakan ayam petelur adalah untuk mendapatkan produksi yang optimal, pemakaian pakan yang efisien dan ayam petelur yang sehat. Nutrisi seperti protein, lemak, karbohidrat, mineral, air dan vitamin adalah essensial bagi fungsi-fungsi vital ayam petelur. Namun vitamin mempunyai perannya sendiri, dimana dibutuhkan jumlah vitamin yang cukup agar penyerapan semua nutrisi tadi dalam pakan dapat efisien. Oleh sebab itu, nutrisi yang optimal dapat terbentuk hanya jika unggas diberikan pakan dengan kandungan mikro dan makro nutrisi yang tepat untuk pertumbuhan, kesehatan, proses reproduksi dan ketahanan hidupnya.

    Vitamin adalah substansi aktif dan sangat dibutuhkan oleh manusia maupun hewan. Tergolong dalam mikronutrisi dan sangat dibutuhkan bagi metabolisme normal pada hewan. Vitamin juga sangat dibutuhkan untuk mencapai kesehatan yang optimal, sama halnya dengan fungsi fisiologis normal seperti tumbuh, berkembang, mempertahankan hidup dan bereproduksi. Kebanyakan vitamin tidak bisa dibentuk secara alamiah oleh ayam (unggas) dalam jumlah yang cukup untuk kebutuhan fisiologisnya. Sehingga vitamin ini harus tersedia dalam pakannya. Vitamin terkandung pada banyak bahan penyusun pakan dalam jumlah yang sedikit. Apabila terjadi kekurangan vitamin pada pakan, akibat tidak sempurnanya proses penyerapan, maka dapat mengakibatkan munculnya penyakit ataupun sindroma kekurangan vitamin.

    Secara umum vitamin dibagi menjadi dua golongan berdasarkan kelarutannya dalam lemak dan dalam air. Vitamin yang mudah larut dalam lemak terdiri dari vitamin A, D, E dan K. Sementara vitamin B komplek (B1, B2, B6, B12, Niacin, Asam pantotenat, Asam folat dan Biotin) dan vitamin C digolongkan dalam vitamin yang mudah larut dalam air.

    Saat ini semua industri pakan sudah memahami bahwa jumlah minimum vitamin dalam pakan amat dibutuhkan. Hal ini untuk menghindari gejala klinis yang timbul akibat defisiensi vitamin yang mengakibatkan kesehatan serta produksi menjadi tidak optimal. Yang menjadi pertimbangan adalah bahwa produktifitas dari peternakan pasti terus berkembang, bisa melalui peningkatan kemampuan genetis, modifikasi nutrisi, modifikasi manajemen serta pengembangan sistem pemeliharaan. Hal ini pastinya akan meningkatkan kebutuhan akan vitamin. Selanjutnya, produksi unggas yang intensif akan meningkatkan metabolisme, gangguan lingkungan dan cekaman penyakit yang pada akhirnya akan menyebabkan tidak optimalnya performans serta tingginya kemungkinan terjadi difisiensi (kekurangan) vitamin. Kontaminasi jamur (mikotoksin) pada pakan dan zat yang berlawanan dengan vitamin, juga dapat membatasi dan bahkan menghambat kerja beberapa vitamin.

    Faktor-faktor tadi, mulai dari latar belakang genetis unggas, status kesehatan akibat program pemeliharaan dan komposisi bahan baku pakan, dapat membedakan kebutuhan masing-masing vitamin. Asupan dan ketersediaan vitamin dari sumber alam sangat tidak bisa diperkirakan. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan kandungan vitamin dalam bahan baku pakan (tergantung pada iklim saat ditanam, penentuan waktu panen dan proses penyimpanan bahan baku). Jadi akan lebih baik untuk mempertahankan kebutuhan vitamin ayam, melalui pemberian vitamin tambahan.

    Agar unggas dapat memberikan hasil yang sesuai dengan potensi genetisnya, nutrisinya dan terutama ketersediaan vitamin harus optimal. Vitamin B dibutuhkan agar penyerapan nutrisi menjadi efisien. Bersama dengan vitamin A, vitamin B sangat penting untuk membantu ayam dalam aktivitas metabolismenya dan untuk mempertahankan serta meningkatkan kemampuan bertelur. Vitamin C dan E sama-sama dapat meningkatkan ketahanan ayam terhadap stress dan membantu mempertahankan kesehatan ayam.
    Sementara itu, keuntungan spesifik yang berhubungan dengan kualitas telur yang superior dapat dicapai, jika vitamin E diberikan dalam jumlah optimal pada pakan ayam yang sedang bertelur. Akhirnya, vitamin D dibutuhkan untuk membantu proses pembentukan tulang dan kerabang serta untuk menghindari masalah kelumpuhan.

    Tingkat optimum penambahan vitamin dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

    SEPUTAR KERABANG TELUR

    MASALAH TELUR DENGAN KERABANG TIPIS DAN TELUR TIDAK BERKERABANG



    Gambaran

    Telur dengan kerabang yang sangat tipis, atau tidak memiliki kerabang disekitar membran telur. Kelihatan tidak menarik dan sangat mudah pecah/rusak.

    Insiden

    Kejadian telur seperti ini bervariasi antara 0.5 sampai hingga 6%. Biasanya dihasilkan oleh pullet yang baru belajar bertelur, terutama pada ayam-ayam yang terlalu cepat dewasa kelamin. Pada beberapa kasus, ayam terus saja bertelur dengan jenis kerabang seperti ini.